Lhokseumawe, 20 Oktober 2026 — Upaya meningkatkan mutu pendidikan pesantren terus membutuhkan pembenahan, inovasi, dan tata kelola yang terencana. Berangkat dari semangat tersebut, Rizkie Maulana, Wakil Direktur Bidang Pengajaran Pesantren Modern Misbahul Ulum (PMMU), Lhokseumawe, Aceh, menerbitkan sebuah buku berjudul 100 Hari Pertama Memimpin Pengajaran.
Buku yang ditulis pada tahun 2026 ini merupakan catatan reflektif atas perjalanan 100 hari pertama dalam menjalankan amanah di Bidang Pengajaran PMMU, terhitung sejak 1 Juli 2026. Karya ini mendokumentasikan berbagai langkah pembenahan administrasi, penguatan kedisiplinan, pengembangan sarana pembelajaran, serta inisiatif digitalisasi pengelolaan pesantren.
Melalui buku ini, Rizkie Maulana ingin menunjukkan bahwa perubahan di lembaga pendidikan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Pembenahan dapat dimulai dari pekerjaan sehari-hari yang ditata lebih sistematis, aturan yang diperjelas, data yang dikelola secara tertib, serta keberanian untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem kerja.
Mencatat Perubahan dan Menjaga Amanah
Dalam pengantarnya, Rizkie menjelaskan bahwa pengelolaan pengajaran bukan hanya berkaitan dengan jadwal guru dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Di balik proses tersebut, terdapat berbagai unsur penting yang saling berkaitan, seperti administrasi, kedisiplinan, pengelolaan jadwal, sarana pembelajaran, dokumentasi kegiatan santri, dan evaluasi mutu pendidikan.
Karena itu, buku ini disusun bukan sekadar sebagai laporan kegiatan, melainkan juga sebagai dokumentasi perjalanan, pembelajaran, dan evaluasi atas pekerjaan yang telah dimulai.
Penulis menekankan pentingnya membedakan antara program yang sudah digunakan, program yang masih berjalan, sistem yang sedang dibangun, dan pekerjaan yang masih membutuhkan pengumpulan data. Dengan pendekatan tersebut, capaian dapat disampaikan secara lebih objektif, sementara pekerjaan yang belum selesai tetap menjadi bagian dari agenda perbaikan.
Sejumlah Pembenahan Bidang Pengajaran
Dalam buku tersebut, terdapat beberapa langkah penting yang menjadi bagian dari perjalanan 100 hari pertama pengelolaan Bidang Pengajaran PMMU.
Pertama, penataan roster guru melalui sistem. Langkah ini dilakukan untuk membantu pengelolaan jadwal pembelajaran agar lebih mudah diperbarui, diperiksa, dan dievaluasi. Sistem roster diharapkan dapat mendukung ketepatan pembagian jam pelajaran serta membantu mengidentifikasi potensi benturan jadwal.
Kedua, pengembangan SIGURU sebagai sarana pencatatan kedisiplinan guru. Sistem ini mulai digunakan untuk mendukung administrasi yang lebih tertib dan dapat ditelusuri. Penulis juga menekankan bahwa pencatatan kedisiplinan harus disertai proses verifikasi, klarifikasi, dan tindak lanjut yang adil serta dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, revisi Gerakan Disiplin Santri (GDS) dalam lingkup Bidang Pengajaran. Penyempurnaan ini diarahkan untuk memperjelas unsur-unsur kedisiplinan santri agar lebih mudah dipahami dan diterapkan. Dalam pandangan penulis, disiplin tidak cukup dibangun melalui aturan, tetapi juga memerlukan pembinaan, konsistensi, dan keteladanan.
Ketiga langkah tersebut saling melengkapi dalam mendukung terciptanya pengelolaan pembelajaran yang lebih tertib dan terarah.
Rehabilitasi Laboratorium IPA untuk Mendukung Pembelajaran
Buku ini juga mencatat dukungan sarana pendidikan melalui bantuan sebesar Rp125.000.000 dari Kementerian Agama Republik Indonesia untuk rehabilitasi Laboratorium IPA PMMU.
Pada saat buku disusun, proses rehabilitasi masih berlangsung. Oleh karena itu, perhatian berikutnya diarahkan pada pengawalan penyelesaian pekerjaan, pemeriksaan hasil rehabilitasi, serta persiapan pemanfaatan laboratorium untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Bagi penulis, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pendidikan tidak cukup diukur dari tersedianya bangunan atau sarana yang diperbaiki. Manfaatnya perlu diwujudkan melalui pemanfaatan yang tepat untuk menunjang proses belajar santri.
Selain sarana pembelajaran, buku ini turut menyoroti pentingnya dokumentasi kegiatan santri. Data kegiatan dan prestasi perlu dihimpun, diverifikasi, dan disimpan secara teratur agar dapat menjadi arsip kelembagaan yang bermanfaat untuk evaluasi maupun pengembangan pendidikan pada masa mendatang.
BASMALLAH: Gagasan Digitalisasi Terpadu Pesantren
Salah satu pembahasan penting dalam buku ini adalah pengembangan BASMALLAH, sebuah gagasan sistem digital terpadu yang mulai dibangun untuk mendukung pengelolaan berbagai bidang di lingkungan PMMU.
BASMALLAH direncanakan mencakup kebutuhan pengajaran, kelembagaan, kesantrian, kepegawaian, pengasuhan, layanan wali santri, keuangan, serta bidang lain yang relevan.
Pengembangan sistem ini dilandasi oleh kebutuhan untuk membangun tata kelola yang lebih terintegrasi, tertib, dan mudah dievaluasi. Dengan dukungan teknologi, data diharapkan dapat dikelola secara lebih terstruktur dan membantu pengambilan keputusan.
Meski demikian, penulis menegaskan bahwa pembangunan BASMALLAH harus dilakukan secara bertahap. Pemetaan kebutuhan setiap bidang, penentuan prioritas, pengaturan hak akses, keamanan informasi, serta pembagian tanggung jawab pengelolaan data merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan.
Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya berorientasi pada pembuatan aplikasi, tetapi juga pada manfaat nyata yang dapat dirasakan oleh pengguna dan lembaga.
Dari Evaluasi Menuju Target Berikutnya
Buku 100 Hari Pertama Memimpin Pengajaran juga memuat evaluasi terhadap capaian awal dan arah pengembangan pada periode berikutnya.
Fokus ke depan tidak hanya menambah program baru, tetapi juga memantapkan program yang telah dimulai. Sistem roster dan SIGURU perlu terus dievaluasi. Revisi GDS perlu diikuti sosialisasi dan penerapan yang konsisten. Rehabilitasi Laboratorium IPA perlu dikawal hingga selesai dan dimanfaatkan. Sementara itu, pembangunan BASMALLAH dan penataan dokumentasi kegiatan santri perlu dilanjutkan secara terencana.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa perubahan kelembagaan membutuhkan kesinambungan. Setiap program perlu memiliki tujuan yang jelas, tahapan pelaksanaan, penanggung jawab, serta ukuran keberhasilan yang dapat dievaluasi.
Bagi penulis, 100 hari pertama bukanlah garis akhir, melainkan fondasi untuk membangun pengelolaan pengajaran yang lebih baik.
Pengabdian untuk Kemajuan Pesantren dan Masa Depan Santri
Buku ini didedikasikan kepada Pesantren Modern Misbahul Ulum, pimpinan pesantren, para guru, pengasuh, tenaga kependidikan, seluruh pihak yang terlibat dalam perjalanan pendidikan PMMU, dan terutama para santri.
Penulis memandang bahwa setiap pembenahan administrasi, pengembangan sistem, penataan jadwal, penguatan kedisiplinan, dan peningkatan sarana pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi santri sebagai penerima utama layanan pendidikan.
Melalui karya ini, Rizkie Maulana juga menyampaikan refleksi bahwa jabatan merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui kerja nyata, kesungguhan, loyalitas, dan tanggung jawab. Perubahan perlu dibangun melalui kolaborasi, keterbukaan terhadap evaluasi, dan komitmen untuk terus belajar.
Penerbitan buku ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi perjalanan pengembangan Bidang Pengajaran PMMU sekaligus bahan refleksi bagi pengelola lembaga pendidikan, khususnya pesantren, dalam membangun tata kelola yang lebih tertib, terukur, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Pada akhirnya, 100 Hari Pertama Memimpin Pengajaran membawa satu pesan utama: perubahan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang dimulai, tetapi juga tentang apa yang diperbaiki, dilanjutkan, dan diwariskan sebagai manfaat bagi lembaga dan generasi mendatang.
Tentang Penulis
Rizkie Maulana merupakan Wakil Direktur Bidang Pengajaran Pesantren Modern Misbahul Ulum (PMMU), Lhokseumawe, Aceh. Melalui buku 100 Hari Pertama Memimpin Pengajaran, ia mendokumentasikan ikhtiar pembenahan administrasi, kedisiplinan, sarana pembelajaran, dan pengembangan sistem digital sebagai bagian dari upaya mendukung kemajuan pendidikan pesantren.
Link Buku
https://drive.google.com/file/d/1hEI7PW0-twUVXkfpg3fwLH2pZGCaqPVh/view?usp=drivesdk